Minggu, 20 Desember 2015

8 Komunitas Punk Terkenal

"Punk's Not Dead..!! Lahir sebagai Lambang Idealisme, Kebebasan dan Attitude perlawanan terhadap kepura-puraan realita hidup. Meski banyak menuai gelombang kontroversi dan dunia seakan hanya memandang sebelah mata, menganggap kehadiran mereka sebagai kelompok anarkis. Punk sebagai aliran musik yang menyuarakan protes dan keberanian tak akan pernah mati, dan tak akan pernah menjadi sebuah kisah legenda yang hanya pantas Dikenang.

Meski menjadi kaum minoritas, berbagai komunitas punk di dunia akan tetap tumbuh, berkembang dan berpadu dengan genre aliran musik lainnya hingga sampai saat ini ada lebih dari 8 komunitas Punk  terkenal di dunia. Seperti berikut ini;
8 Komunitas Punk Terkenal Dan Terbesar di Dunia Termasuk Indonesia

1. Street Punk

8 Komunitas Punk Terkenal di Dunia

Mencintai genre Punk Rock dan terbentuk pertama kali Punk Jalanan ini pada tahun 1980 sebagai komunitas yang memberontak terhadap pretensi artistik. Punk Jalanan berpenampilan dengan atribut lebih 'ramai' dibandingkan kelompok The Oi atau Skinhead.

Ciri khas yang mudah  dikenal dari dari anak-anak Punk jalanan adalah rambut mohawks berwarna warni, Tato, Jaket kulit Full Patch Studded dan dihiasi dengan bordiran nama-nama band punk. Chaos UK, Discharge, The Anti-Nowwhere League dan Oxymoron adalah band-band yang menjiwai Punk Jalanan.

2. Skinhead


Berpenampilan botak plontos dengan pakaian polo Freed Perry, celana jeans semi ketat dan memakai monkey boots serta jaket jeans. Skinhead menyukai musik Ska, Reggae, Oi dan Rock Steady. Sub kultur mereka lahir di London, Inggris pada era tahun 1960an. Meskipun Skinhead terlihat 'Berandalan' namun mereka adalah para pekerja keras, sebagian mencari nafkah sebagai buruh kasar dan buruh pelabuhan. Sebab itulah anak-anak Skinhead tidak pernah berambut gondrong, mohawk ataupun acak-acakan karena dilarang keras ditempat mereka mereka bekerja. 
Label Rasisme juga keras dituduhkan kepada komunitas Punk Skinhead karena seringnya mereka berkelahi dengan para pekerja imigran yang berasal dari Pakistan dan Asia Selatan, penyebabnya sepele karena para imigran rela upahnya dibayar lebih rendah dan itu artinya mengancam lahan pekerjaan para pekerja Skinhead.

3. Oi


Aksen Cockney di Inggris mengartikan Oi sebagai ungkapan salam Hello! The Oi terbentuk dari beberapa komunitas Street Punk yang dimasa itu sedang dilanda demam Punk Rock sebagai musik protes. Banyak orang yang mengindentikkan Oi dengan Skinhead sementara Skinhead identik dengan cap "Rasisme". Oi sangat mencintai kedamaian, lirik-lirik lagu mereka berbicara seputar anti rasis, cinta, sepakbola dan kehidupan Skinhead. Itulah sebabnya Musik Oi tidak memandang perbedaan Ras, warna kulit dan kepercayaan agama.

4. Queercore (Homocore) aka Maho


Kebebasan dan Kesetaraan Hak bagi para Lesbian, Homo Seksual, Biseksualitas dan Transgender diekspresikan dalam komunitas Punk Queercore yang terbentuk pada tahun 1980. Komunitas ini dikenal cerdas dan memiliki materi berlebih dibandingkan komunitas punk lainnya. Penerbitan majalah Artikel, pembuatan Film, rekaman musik sampai pertunjukkan seni mereka lalukan untuk sekedar berekspresi.

5. Riot Grrrl


Riot Grrrl merupakan gerakan Punk Hardcore feminis yang semua anggotanya adalah kaum hawa. Dibentuk pada tahun 1990 di Washington DC sebagai komunitas Punk yang berideologi persamaan Gender bahwa wanita juga bebas berprekspresi seperti halnya kaum laki-laki. Tak hanya sebagai komunitas musik Band Punk.


Para Riot Grrrl juga memperjuangkan masalah-masalah kaum mereka seperti pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, pemberdayaan perempuan, rasisme sampai perdagangan wanita (pelacuran). Band-band Punk yang lahir dari komunitas ini diantaranya Bikini Kill, Bratmobile, Heavens to Betsy, Excuse 17, Skinned Teen dll.
6. Straight Edge Scene 'Scum Punk'



Tidak merokok, mengkonsumsi alkohol, memakai narkoba maupun obat bius menjadi peraturan untuk bergabung dengan komunitas Scum Punk ini. Saking fanatiknya banyak anggota yang juga menjauhkan diri dari pergaulan seks bebas sampai menjadi seorang vegetarian. Huruf 'X' menjadi lambang simbol komunitas mereka yang dijadikan tanda di punggung kedua buah tangan. Scum Punk yang beraliran Hardcore Punk ini terbentuk pada tahun 80 an sampai berkembang menjadi beberapa generasi di Era Oldschool, Youth Crew dan Militan.

7. Skate Punk


Berawal dari Komunitas pecinta SkateBoard Pantai California, Skate Punk terbentuk tahun 1980 dimana pada masa itu anak-anak muda yang gemar bermain SkateBoard dianggap sebagai sebagai bentuk pemberontakan. Musik yang Enerjik, penuh Ditorsi menjadi unik perpaduan dari Punk Rock dan Hardcore Punk. Beberapa musisi terkenal dunia lahir dari komunitas Skate Punk ini diantaranya Drunk Injuns, NOFX, McRad, Agent Orange, Hogan Heroes sampai musisi band cantik Avril Lavigne.

8. Nazi Punk ( Neo Nazi)


Berbeda dengan yang dilakukan oleh Sid Vicious sang Vokalis Sex Pistols sebagai Band Punk Terkenal Dunia yang menggunakan lambang Swastika Nazi sebagai bahan komedi atau lawakan. Para komunitas Nazi Punk benar-benar memakai lambang Swastika Nazi sebagai kekuatan sang diktator Adolf Hitler yang menjadi paham Ideologi mereka.

Lirik-lirik lagu mereka berisi anti Yahudi, anti Homoseksual, kebencian perbedaan warna kulit. Entah komunitas Neo Nazi ini memang meyakini Ideologi sang Fuhrer Adolf Hitler atau hanya sekedar ikut-ikutan saja.

Komunitas Punk Terbesar Dunia
Sahabat kejadiananeh.com itulah "8 komunitas punk paling terkenal di dunia" meskipun masih ada sub genre komunitas punk lainnya seperti Hardcore Punk, Ska Punk, Glam Punk, Crust Punk dan Punk Fashion dimana sekelompok komunitas yang bukan punkers sejati dan hanya meniru gaya berpakaian para anak-anak punk. Begitu uniknya fenomena Punk sampai di Indonesia sendiri pun dikenal banyak komunitas-komunitas anak Punk. Biar makin pinter baca juga Band Punk Legendaris yang Jadi Inspirasi Dunia.



Sumber : http://www.kejadiananeh.com/2015/09/komunitas-punk-terkenal-di-dunia.html

Kelompok Punk Bawah Tanah Indonesia Terbesar di Dunia

Kelompok punk yang bergerak di bawah tanah di Indonesia disebut-sebut sebagai yang terbesar di dunia. Investigasi ABC Australia menemukan, para punkers tetap eksis meskipun banyak upaya memberantas kelompok musik radikal ini dan Indonesia juga semakin stabil secara politik.

Di Indonesia, keterlibatan seseorang sebagai punkers bisa berisiko ditahan dan dimasukkan dalam program re-edukasi. Namun, tampaknya tidak banyak yang tahu, bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan banyak punker yang bergerak sembunyi-sembunyi.

Dunia kaum punker di Indonesia diwarnai kehidupan yang khaos, teriakan, dan kegiatan kolektif di bidang seni dan musik dengan mengajar anak-anak jalanan cara mengamen untuk bertahan hidup.
Cerita tentang punk di Indonesia dibumbui oleh aroma tempe goreng pinggiran jalan raya dan asap knalpot kendaraan. Bunyi-bunyian yang kontras tercipta saat suara azan menggema bertemu dengan suara teriakan para punker diselingi lengkingan gitar listrik.

Terasa adanya kerumitan dalam pengalaman menjadi seorang punkers, hubungan lama antara tattoo dengan kriminalitas, sejarah kekerasan yang dijalankan negara, serta anak-anak muda yang memilih menjadi punkers saat ini yang didorong oleh energi yang dihembuskan oleh musik punk.
Namun, cerita punk di Indonesia juga tidak lepas dari persahabatan, keluarga, dan bagaimana punk bisa menjadi jalan keluar.

Di tahun 2011 silam, Pemerintah Aceh menangkap 64 punkers dalam sebuah konser di Banda Aceh. Mereka ditahan dan akhirnya dikirim untuk mengikuti pendidikan moral selama 10 hari di markas tentara.

Peristiwa itu menjadi perbincangan dan sejumlah kelompok HAM dan punkers di seluruh dunia melancarkan aksi simpati. Mereka turun ke jalan dan meneriakkan "Bebaskan punkers Aceh!"
Kerusuhan di akhir 1990an yang menandai jatuhnya rezim Presiden Suharto, menjadi ladang subur tumbuhnya para punkers Indonesia.

Punk masuk ke Indonesia saat Suharto masih di puncak kekuasaannya, dan disebut-sebut menjadi ajang pembebasan bagi anak-anak muda yang tertekan di tengah kehidupan yang korup dan dipenuhi kekerasan.

Bank punk bawah tanah seperti Marjinal dan kegiatan seni Taring Babi aktif menggelar wokrshop di sejumlah daerah, mengajari anak-anak jalanan bernyanyi dan bermain gitar. Musik-musik Marjinal menjadi soundtrack dari generasi anak-anak jalanan.

Spirit musik punk sendiri yang anti kapitalis, anti otoriter, otonom dan tidak terikat, membuatnya tidak mencari solusi di dalam sistem yang ada. Tapi, para punkers membuat sistem mereka sendiri.
Punkers jalanan menepis beban religi, budaya, dan realitas kemiskinan. Mereka mencari pembebasan di jalan-jalan. Ketegangan norma agama dan budaya dengan gaya hidup punkers hingga kini masih berlangsung. Operasi anti punkers terjadi di sejumlah tempat. Yang terbaru terjadi di Bali, Februari 2014 lalu.

Kini, dengan stabilitas politik yang kian baik, pemerintahan baru yang ingin melepaskan diri dari sejarah politik yang korup, apakah punk masih relevan di Indonesia? Para punkers di Indonesia menyatakan masih.






Kamis, 17 Desember 2015

Gallery CrutVD

Gallery foto dari "Kungs"

Foto - foto hasil jepretan Kungs yang mengabadikan aksi Vandal Graffitiart CrutVanDalis atau yang biasa di sebut CRUT. Ini adalah momen dimana aksi dari karya-karya CrutVD streetart gallery





























Bisakah Senyap Dipercaya?

senyap-dipercaya_hlgh 
Senyap (2014) adalah lanjutan film dokumenter Jagal (2012) yang sangat populer beberapa tahun lalu dan mendapat banyak pujian. Joshua Oppenheimer, salah satu sutradaranya, bahkan meraih penghargaan MacArthur ‘Genius Grant’. Pendekatan yang dipakai dalam dua film yang sama-sama mengangkat soal peristiwa 1965 itu dianggap spektakuler dalam film dokumenter. Di Jagal, penonton langsung berhadapan dengan para algojo yang membunuh ribuan orang yang dianggap terkait dengan Partai Komunis Indonesia saat itu. Anwar Congo, karakter utama film ini, adalah salah satu algojo tersebut. Sementara di Senyap, sutradara dengan cerdik menggunakan seorang optometris keliling bernama Adi. Kakaknya, Ramli, adalah salah satu korban yang terbunuh.

Secara etis saya justru terganggu dengan pendekatan yang dipakai kedua film itu. Di film Jagal, saya tidak nyaman mendapati bagaimana sutradara—demi membuka mata penonton Indonesia yang konon buta sejarah—berteman dengan para algojo, memanipulasinya dengan cara membantu mereka membuat sebuah film, yang menggambarkan perayaan peran mereka dalam pembantaian 1965. Relasi sutradara dengan para narasumber di Jagal menjadi seperti musuh dalam selimut, lantaran sang sutradara punya agendanya sendiri. Sudah menjadi rahasia umum bahwa akses ke narasumber adalah salah satu kunci kesuksesan sebuah film dokumenter. Daya tawarnya menjadi lebih tinggi di mata para produser atau penyandang dana jika sutradara punya akses istimewa ke narasumber. 

Menonton Jagal, saya jadi bertanya-tanya: pendekatan macam apa yang dipakai sutradara sehingga ia bisa memperoleh kepercayaan penuh dari narasumber? Bahkan mampu membuat mereka, yang notabene adalah para algojo pada peristiwa berdarah itu, rela membuka sejarah kelam mereka dengan demikian santainya? Rasanya tidak mungkin semua itu didapat dengan menunjuk hidung mereka, menudingnya sebagai penjahat kemanusiaan, dan si sutradara mengaku ingin menunjukkan sisi gelap itu kepada masyarakat internasional.

Sebagai penonton yang juga kebetulan pembuat film dokumenter, saya percaya bahwa setiap sutradara bertanggung jawab untuk tidak memanipulasi narasumber di filmnya hanya demi kepentingan pribadi. Saya meyakini film dokumenter sebagai kerja kolaborasi: narasumber berhak tahu tentang apa sebenarnya film yang sedang dibuat, apa tujuan si pembuat film, dari mana sumber dananya, dan sebagainya. Sutradara bertanggungjawab penuh atas dampak yang bakal timbul dan dialami si narasumber ketika filmnya dirilis. Oleh sebab itu, narasumber berhak menonton serta memberi persetujuan pada hasil akhir film tersebut.

Menurut saya, semua hal itu telah dilanggar oleh sutradara film Jagal. Sudah terlalu sering saya mendengar bagaimana sebuah film dokumenter menjadi bumerang bagi para narasumber, hanya karena sutradara lupa bahwa mereka punya kehidupan nyata yang akan berdampak ketika filmnya beredar. Ada kalanya para narasumber terpaksa menanggung konsekuensi buruk setelah publik menonton film tersebut, sementara sang sutradara bisa melenggang pergi, kembali ke kehidupan mereka yang nyaman di kota-kota besar. Atau jangan-jangan pendukung film Jagal malah berpikir, buat apa penonton harus repot-repot memikirkan dampak film itu terhadap seorang pembunuh keji macam Anwar Congo?

gambar_senyap-look-of-silence_01
Di sini perlu kiranya dipahami relasi kuasa dalam pembuatan film dokumenter. Dalam prosesnya, sutradara sebagai pihak yang terdidik dan harusnya melek media, punya kuasa tertinggi. Ia (seharusnya) tahu bagaimana film dibuat dan risiko apa yang akan muncul saat film tersebut dilempar ke publik. Di titik inilah integritas sutradara diuji. Para pembela film Jagal bisa saja berargumen: sah-sah saja jika sutradara memanipulasi Anwar Congo dan kawan-kawan, sebab para algojo itu orang jahat, toh segala manipulasi itu tak ada apa-apanya dibanding dengan tindakan mereka yang sudah menghabisi nyawa ribuan orang. Jika demikian, apakah berarti orang jahat boleh dimanipulasi demi sebuah misi mulia? Bahwa mata boleh dibalas mata? Rasanya tidak perlu menjadi seorang Buddhis yang saleh untuk merasa terganggu dengan logika tersebut.

Meski di film Jagal ada adegan Anwar Congo menyesal dan merasa bersalah setelah sutradara menunjukkan footage reka ulang adegan pembunuhan yang pernah mereka lakukan, perlu diingat bahwa ketika proses itu terjadi ia tidak tahu agenda para sutradara. Akankah ia bersikap sama jika tahu ia sedang dimanipulasi? Al-Jazeera, dalam sebuah tayangannya, pernah mewawancarai Anwar Congo di Medan. Mereka mencoba mempertemukan Anwar dengan Joshua melalui aplikasi Skype. Terjadi sebuah dialog singkat yang berujung pada Anwar mengatakan betapa Jagal telah menempatkannya pada posisi sulit. Silakan cek momen 19:12 pada video Indonesia’s Killing Fields produksi Al Jazeera ini.

Perkara etis ini tidak akan muncul jika saja sutradara memposisikan dirinya seperti Michael Moore, sutradara film dokumenter asal Amerika Serikat. Moore secara aktif menggugat pihak yang dianggapnya lawan, tanpa harus memanipulasi mereka sebagai kawan, tanpa memakai kamera tersembunyi ketika menggunakan pendekatan investigatif. Lebih tidak etis lagi ketika satu sutradara memilih kabur ke negara dunia pertama, sedangkan sutradara lainnya memilih menjadi anonim, membiarkan si narasumber menghadapi sendiri persoalan yang mereka tinggalkan.

Jika pada Jagal manipulasi dan eksploitasi sutradara adalah terhadap para algojo, maka pada Senyap sutradara maju selangkah lagi dengan mengincar keluarga para algojo. Sutradara mengarahkan Adi, sebagai optometris, untuk mendatangi para algojo dan keluarganya, lalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tak ada hubungannya dengan kesehatan mata. Ketidaknyamanan saya sebagai penonton sudah langsung terasa sejak Adi mendatangi si algojo yang pertama: alih-alih mendapat resep untuk kesehatan matanya, ia malah dicecar dengan pertanyaan pretensius dan intimidatif dari Adi. Pada sebuah keluarga yang terdiri dari seorang bapak yang sudah tampak linglung, dan seorang anak perempuannya, perhatikan bagaimana Adi mendramatisir adegan itu dengan cerita betapa si bapak meminum darah korban yang dibunuhnya supaya tidak gila.

Juga ketika Adi bertanya kepada si anak perempuan, tentang bagaimana perasaannya saat tahu bapaknya membunuh orang lalu meminum darahnya. Gaya yang diperlihatkan Adi mengingatkan saya pada reporter stasiun-stasiun TV di Indonesia ketika meliput sebuah peristiwa bencana, yang selalu mencecar korban dengan pertanyaan “Bagaimana perasaan Ibu?”, sembari kamera bergerak zoom-in, berharap si narasumber menangis demi mendapatkan efek dramatis ala sinetron-sinetron murahan. Konon adegan ini dianggap paling menyentuh dari Senyap, dan dijadikan sebagai contoh usaha rekonsiliasi. Saya memang tersentuh dan menaruh simpati, tetapi bukan pada Adi, melainkan pada anak perempuan yang dipaksa sedemikian rupa untuk ikut terlibat menanggung dosa bapaknya.
Di adegan lain, diperlihatkan bagaimana Adi memaksa pamannya sendiri untuk mengaku bersalah atas kematian Ramli. Alasannya, saat itu si paman bertugas menjaga bioskop tempat para korban ditahan sebelum dibunuh. Tak cukup sampai di situ, Adi masih merasa perlu mengadukan hal itu pada ibunya demi mendapatkan drama lain. Semua itu mengingatkan saya pada politik adu domba. Saya melihat bagaimana pintarnya sutradara mengkonstruksi situasi tersebut untuk menciptakan efek drama. Narasumber lebih tampak sebagai pion dalam permainan catur ketimbang karakter yang punya motivasi murni.

gambar_senyap-look-of-silence_02

Film Senyap adalah hasil konstruksi yang terukur dan terencana dengan matang. Menurut pengakuan Joshua, film Senyap direkam hanya dalam enam hari. Sebagian besar adegan di film ini bukanlah sesuatu yang organik yang terjadi begitu saja kemudian direkam, melainkan hasil pengadeganan, misalnya percakapan Adi dengan istrinya, percakapan dua anaknya, atau ketika Adi mengadu kepada ibunya. Adegan-adegan itu mustahil terjadi dan terekam secara wajar dalam waktu kurang dari seminggu. Reaksi para algojo dan keluarganya yang ditemui Adi adalah hal paling brilian dalam film ini, tetapi harus diingat bahwa sutradaralah yang mereka-reka dan menciptakannya, serta berkuasa penuh atas terjadinya semua adegan itu. Motivasi Adi sebagai karakter utama secara mentah-mentah dijadikan proyeksi visi sutradara. Saya tidak bermasalah dengan konstruksi dalam sebuah film dokumenter. Bagi saya yang penting adalah apakah sebuah film dokumenter bisa ‘dipercaya’.

Puncak eksploitasi pada Senyap terjadi saat Adi mengunjungi keluarga terakhir di film itu. Karena si bapak yang menjadi algojo sudah meninggal dunia, yang ditemui adalah sang istri yang sedang sakit, dan si anak yang tampaknya tidak tahu apa-apa. Keterbukaan keluarga itu dalam menerima sutradara ke rumahnya, dan kesediaan mereka untuk difilmkan nyata-nyata ternodai oleh tingkah laku si sutradara yang terlihat tanpa etika. Perhatikan bagaimana adegan itu kemudian disusun: dimulai dengan menampilkan satu video, yang saya duga adalah materi riset ketika si bapak masih hidup. Tak hanya kelihatan bangga saat diwawancara, si bapak algojo itu bahkan menunjukkan buku berisi daftar orang-orang yang berhasil dibunuhnya. Di video itu terlihat juga istrinya, yang tampak berdiri ceria di sampingnya. Adegan ini mengingatkan kita pada polah orang-orang biasa di depan kamera: riang, lugu, terbuka, ‘pengen masuk TV’, tanpa tahu sedikit pun soal agenda orang yang merekamnya.

Kemudian adegan berpindah ke masa kini, ketika sang istri diwawancarai secara intimidatif oleh Adi yang hadir ke rumah itu, entah dengan kapasitas sebagai apa, sebab tidak ada anggota keluarga yang punya masalah dengan mata Ditunjukkanlah video riset tadi demi efek dramatis, seolah ingin mengatakan “suamimu pembunuh, bapakmu pembunuh, dosanya harus kamu tanggung.” Saat keluarga algojo tersebut merasa tidak nyaman, bahkan meminta wawancara itu dihentikan, alih-alih menenangkan keadaan, salah satu sutradara dengan bahasa Indonesia beraksen Amerika malah ingin menunjukkan satu video lagi. Tampaknya si sutradara hanya ingin menambah dramatis suasana dengan memojokkan keluarga itu. Di situlah puncak ketaknyamanan saya sebagai penonton. Senyap menjelma sebuah film yang berhasil memberi stigma pada keluarga-keluarga algojo tersebut, semacam stempel keras bahwa mereka “anak pembunuh”.

Senyap dan Jagal diputar di International Documentary Film Festival Amsterdam pada November 2014 lalu di program Master. Saya berkesempatan menonton Senyap di festival itu. Dalam sebuah diskusi seusai pemutaran, seorang penonton Indonesia yang menetap di Amsterdam bertanya apakah Joshua Oppenheimer sebagai sutradara tidak terganggu dengan adegan di mana ia memaksa keluarga untuk menonton video suami/bapak yang mengakui dirinya sebagai pembunuh. Joshua menjawab, itulah kenyataan.

Jawaban Joshua, sutradara yang sudah diakui sebagai Master, justru tidak mencerminkan kelasnya. Pernyataan Joshua lebih terdengar seperti jawaban seorang amatir yang sedang belajar membuat dokumenter. Seolah-olah dokumenter adalah fotokopi plek-plekan kehidupan, yang menyajikan kenyataan begitu saja tanpa campur tangan sutradara, tanpa manipulasi sedikit pun lewat kamera dan meja penyuntingan. Rasanya tidak perlu menjadi mahasiswa Harvard untuk bisa memahami bahwa film adalah medium yang manipulatif sekaligus menantang integritas sutradara dalam menyajikan argumennya. Barangkali sudah saatnya kita mengakui bahwa Joshua Oppenheimer (bersama partnernya, si sutradara anonim) memang sudah menjadi ‘Master’ dalam dokumenter dengan pendekatan eksploitatif.

gambar_senyap-look-of-silence_03

Senyap digadang-gadang sebagai film yang mempromosikan rekonsiliasi atas tragedi 1965. Saya geram sekaligus ragu jika film ini cocok untuk kebutuhan rekonsiliasi. Adi justru tampak belum selesai dengan kemarahannya sendiri, dan itu dimanfaatkan dengan cerdik oleh sutradara untuk menciptakan drama. Jika film ini mengharapkan terjadinya rekonsiliasi, maka patut dipertanyakan: rekonsiliasi antara siapa dengan siapa, rekonsiliasi macam apa, dan bagaimana caranya? Apakah rekonsiliasi seperti adegan ketika anak seorang algojo akhirnya meminta maaf atas dosa bapaknya kepada keluarga korban, yang dalam film ini diwakili oleh Adi?

Jika ya, bukankah berarti film ini telah menyederhanakan persoalan tragedi 1965 menjadi sekadar drama keluarga pembunuh dan yang dibunuh, tanpa melihat konteks sosial-politik pada masa itu, ketika dua keluarga ini hanyalah bagian kecil dari bangunan yang lebih besar, yang dimanfaatkan oleh penguasa? Jika ya, maka betapa hitam-putihnya film ini melihat tragedi 1965; seolah hanya ada orang baik dan orang jahat, melupakan kenyataan bahwa para pembunuh dalam Senyap sesungguhnya adalah pihak yang diperalat sekaligus korban, tanpa pernah berhasil menunjukkan siapa dalang sesungguhnya.

Jika dalang tragedi 1965 dengan cerdas mengadu domba masyarakat secara horizontal—memperalat anggota masyarakat yang anti-komunis untuk membunuh saudara-saudaranya sendiri yang dituduh komunis—dengan harapan tangan mereka bersih dari darah, lalu apa bedanya sutradara film Senyap yang kembali mempertemukan dua pihak di level yang sama? Bukankah semua pihak sama-sama korban permainan yang lebih besar, sementara dalang besar yang seharusnya bertanggung jawab justru tidak terungkap, bahkan tidak tersentuh sama sekali? Penonton diajak untuk melihat persoalan ini hanya dari lingkup yang kecil, tanpa bisa melihat proyeksi yang lebih besar. Joshua Oppenheimer dan si sutradara anonim dengan cerdik memanfaatkan kemarahan Adi untuk mengkonfrontasi pihak yang sebagian besar sama lemahnya dengannya.

Seperti halnya Jagal, persoalan relasi kuasa kembali muncul di film Senyap. Kali ini bahkan lebih timpang. Sudahkah sutradara mempertimbangkan konsekuensi apa yang bakal terjadi pada orang-orang yang ditemui Adi setelah film ini diputar? Kalaupun benar Adi dalam Senyap bermaksud membuka pintu maaf dan rekonsiliasi, kenapa ia merasa perlu untuk pindah dari Medan menyelamatkan diri dan keluarganya, seperti yang diceritakan Joshua saat diskusi filmnya di Amsterdam? Jika ia menginginkan rekonsiliasi, bukankah logika yang benar adalah ia tetap tinggal di desanya dan terus bekerja sebagai optometris sembari mendatangi orang-orang yang ia anggap ikut terlibat membunuh kakaknya dengan harapan terjadi rekonsiliasi? Bukankah kepindahannya untuk menyelamatkan diri adalah sesuatu yang kontradiktif dengan misinya sebagai narasumber utama, juga misi film ini? Jika betul rekonsiliasi yang dimaksudkan dalam film ini adalah rekonsiliasi antara para keluarga algojo dengan korbannya, lalu bagaimana dengan keterlibatan rezim Soeharto dan kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat?

Seorang sutradara Jepang yang baru saja menonton Senyap di Amsterdam bertanya pada saya, apakah para korban sudah mendapat kompensasi? Saya balik bertanya, kompensasi dari siapa? Ia jawab, dari para pembunuh. Saya tanya balik, kenapa pembunuh yang wajib membayar kompensasi kepada korban? Saya tanya lagi, apakah ia memahami situasi sosial politik pada masa itu? Ia terlihat bingung; dari situ saya berkesimpulan ia tidak tahu.

gambar_senyap-look-of-silence_04

Percakapan itu membuktikan betapa Senyap telah mereduksi tragedi 1965 menjadi drama keluarga dengan karakter hitam-putih. Film tersebut gagal memberi konteks sosial politik pada masa itu, gagal menyajikan konteks perang dingin, dekolonisasi, dan anti-nonblok. Perhatikan bagaimana Adi memaksa pamannya untuk mengaku terlibat secara tidak langsung dalam pembunuhan Ramli, juga bagaimana Adi menggugat pamannya karena tidak menyelamatkan Ramli. Pengadeganan itu melupakan fakta betapa peliknya situasi yang terjadi pada saat itu, ketika semua orang dihadapkan pada pilihan sulit antara dibunuh atau membunuh, ketika seorang adik bisa mengkhianati kakaknya, seorang istri bisa mengkhianati suaminya, dan seterusnya demi menyelamatkan diri. Seolah-olah sang paman punya kuasa lebih untuk menyelamatkan Ramli, di saat keselamatannya sendiri barangkali juga terancam.

Penonton yang sudah memiliki latar belakang pengetahuan tentang tragedi 1965 bisa dengan mudah memahami film ini, tetapi bagaimana dengan orang yang tidak punya cukup referensi? Saya ragu Senyap berhasil menyajikan sejarah dengan jernih. Apa yang kita bisa pelajari dari film tentang sejarah yang justru gagal memberi konteks? Kebetulan saat ini saya sedang menyutradarai film dokumenter tentang S Sudjojono, pelukis yang diakui sebagai Bapak Seni Rupa Modern Indonesia. Dia anggota Lekra dan seorang komunis sejati. Proses riset film ini membawa saya menemui seorang penulis Lekra, yang pernah dibuang ke Pulau Buru selama empat belas tahun. Suatu kali saya iseng bertanya kepada si penulis kiri tersebut, apa pendapatnya tentang film Jagal. Menurutnya, “Film itu hanya akan menimbulkan dendam.”

Senyap dirayakan, dipuja, dan didukung oleh para aktivis hak asasi manusia. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Komnas HAM) bahkan memberikan surat dukungan tertulis terhadap pemutaran film ini. Saya heran, bagaimana mungkin mereka mendukung film yang eksploitatif terhadap narasumbernya, film yang menciptakan stigma baru terhadap pihak yang tak berdaya, film yang etika pembuatannya patut dipertanyakan? Apakah memang etika tidak diperlukan, demi menegakkan Hak Asasi Manusia? Sebagai orang awam saya jadi bertanya-tanya: apakah orang yang dimanipulasi melakukan kejahatan tidak berhak atas haknya sebagai manusia? Dan apakah keluarga orang yang dianggap melanggar HAM tidak berhak atas HAM itu sendiri?

Melalui tulisan ini saya tidak sedang membela para algojo yang terlibat dalam pembunuhan massal tahun 1965. Saya percaya bahwa kita harus terus membicarakan persoalan ini dalam film, sastra, atau apapun. Namun saya juga percaya bahwa untuk membicarakannya kita perlu cara yang lebih elegan dan manusiawi, untuk membedakan kita dengan yang kita tuduh sebagai penjahat HAM. Sebagai pembuat film dokumenter, saya terganggu dengan upaya bertujuan mulia yang dilakukan dengan cara manipulatif, intimidatif, dan eksploitatif. Apa memang tidak ada cara lain untuk menceritakan kisah ini, supaya terus mengingatkan kita? Sebagai penonton, saya tidak mau menonton film yang proses pembuatannya tidak bersih dari hal-hal yang tidak saya setujui. Sebagai manusia, apalagi yang kita punya selain etika dan nurani?



Penulis karya :

Shalahuddin Siregar

Memulai karirnya sebagai pembuat film setelah menjadi finalis Eagle Award 2005. Setelah lima tahun berproses, dia merilis film dokumenter panjang pertamanya berjudul Negeri di Bawah Kabut pada 2011. Selain membuat film, dia juga menulis dan memotret. Baginya film, foto, dan tulisan adalah medium, yang penting adalah cerita yang ingin disampaikan
Sumber Jelas : 

Senin, 14 Desember 2015

Maraknya Vandalisme di Wikipedia

Ahmad Dani
Jurnalis

JAKARTA – Wikipedia adalah proyek urun daya (rame-rame) yang melibatkan banyak orang dalam menulis sebuah artikel. Meski bersifat rame-rame dan sukarela, bukan berarti artikel yang dibuat tidak akurat.

“Mereka diwajibkan untuk memberi referensi pada tulisan yang dibuatnya karena konsep Wikipedia adalah ensiklopedi,” kata salah satu pengurus Wikipedia Indonesia, Bonaventura Aditya Perdana atau lebih dikenal dikalangan Wikipedia dengan nama Bonaditya kepada Okezone, Jumat (14/11/2014).

Pengrusakan artikel atau dikenal sebagai vandalism sering terjadi di Wikipedia. Menurut Bona, vandalisme yang sering dilakukan adalah dengan merusak artikel dengan huruf acak (ditulis dengan sembarangan). Kedua, menyunting artikel yang seakan fakta ternyata bukan. Ketiga adalah memutar-balikkan fakta.

“Misalnya artis A disunting lahir di kolong jembatan. Itu tidak benar dan bagian dari vandalism,” kata Bona. Karena itu menurutnya, penyertaan sumber referensi itu sangat penting. Pengguna baru diminta untuk mempelajari tata cara penulisan Wikipedia.

Bila pengguna melakukan vandalisme, beberapa pengguna aktif dan pengguna sangat aktif akan turun tangan mengembalikan ke artikel semula atau menyunting artikel dengan benar.

“Semua sebaiknya diselesaikan di ‘warung kopi’,” kata Bona. Warung kopi adalah salah satu bagian di Wikipedia tempat diskusi antar sesama pengguna Wikipedia. Pengurus Wiki akan memantau semua ide yang terlontar.

Meskipun bersifat urun daya, jika seorang pengguna melanggar ketentuan yang sudah ditetapkan, pengurus tak segan memblokir akunnya. Pemblokiran itu menurut Bona bisa dalam bermacam rentang waktu. "Bisa hanya sehari, seminggu, sebulan, tiga bulan sampai pemblokiran permanen yaitu selamanya,” kata Bona. Diblokir sehari biasanya untuk pelanggaran kecil.

Seseorang bisa diblok selamanya jika orang mengaku dari pihak B ternyata bukan.

Bisa terjadi seseorang yang diblok kemudian membuat akun dengan nama lain. "Tapi biasanya pengurus akan jeli jika ada anonim," kata Bona. Bona sendiri tak menampik banyak penyunting di Wikipedia bersifat anonim. "Tapi pengguna yang menggunakan nama asli jauh lebih banyak dari anonim," kata Bona. Pengurus biasanya mencatat IP Address pengguna sehingga jika satu orang memakai dua atau lima akun akan terlihat.

Hal lain yang sering dilakukan oleh pengguna adalah menulis dirinya sendiri dalam Wikipedia. “Seorang bisa ditulis di wikipedia jika sudah pernah ditulis minimal oleh dua media dengan format profil,” kata pengurus Ricky Setyawan. Ditulis oleh dua media itu menunjukkan bahwa seseorang itu memang punya kiprah yang layak diketahui oleh orang banyak. Ricky juga menganjurkan bahwa seorang tokoh ditulis di Wikipedia oleh orang lain bukan tokoh itu sendiri untuk menjaga netralitas. “Tetap terbuka jika tokoh itu lakukan suntingan atas tulisan tentang dirinya bila ada yang dianggap kurang pas,” kata Ricky.

Memang tak mudah bagi pengurus yang hanya berjumlah 24 orang untuk menangani seluruh masalah di Wikipedia. Apalagi mereka bekerja secara sukarela tanpa dibayar. “Karena itu penting bagi pengguna untuk memperlakukan artikel dengan baik. Artinya artikel itu punya sumber dan tidak lakukan vandalism,” kata Bona.



Sumber:

Vandalisme di Tembok Rumah Penanda Jalan Maling Marak di Depok

Depok, Kp.Serab kembali diserang Aksi Vandal

Setelah ramai dengan aksi kriminalitas begal motor, Kota Depok kembali menjadi sorotan dengan aksi vandalisme atau coret-coret tembok penanda rumah akan dibobol komplotan maling.

Semula, seorang karyawan swasta yang tinggal di wilayah Kampung Serab, Tirtajaya, Sukmajaya, Depok M Saifulloh tidak melihat coretan grafiti di tembok samping kamarnya sepulang kerja, Jumat (20/11) malam. Namun, sepulang dari stasiun Depok, Sabtu (21/11), Saiful mencermati ada coretan biru bertuliskan 'MDM', 'SEIMS' berwarna coklat, dan dua simbol seperti anak panah mengarah ke barat.

"Kemarin nonton di TV ada kasus seperti ini di Pancoran Mas. Pagi ada coretan di temboknya, dini hari dia kehilangan sepeda motor. Sepertinya modus baru karena ada beberapa rumah tetangga juga dicoreti dengan pola serupa," terangnya.
Pria yang tinggal medio tahun 2012 di kawasan tersebut menandai peristiwa pencurian kerap terjadi di sekitar lingkungannya. Seperti sepekan lalu, ujarnya, tetangga lain RT lengah membuka pintu di siang hari dan meninggalkan rumahnya beberapa menit saja. Tak ayal, maling menggasak laptop dan buku tabungan sang tetangga.

"Kejadian itu sehari setelah saya lapor Pak RT, ada seorang pria muda bolak-balik berjalan di depan rumah sambil tengak tengok nggak jelas," ungkap Saiful.

Ia juga mencermati, kawanan maling di area Kampung Serab yang melalui jalan akses perumahan Grand Depok City selalu menyasar rumah-rumah dengan penghuni baru. Pola itu, katanya, terlihat sejak setahun terakhir. Tercatat sekitar tiga tetangga barunya menjadi korban pencurian mulai dari jemuran, handphone, sertifikat hingga tabungan.

Bahkan saat libur Lebaran, rumah tetangga di seberang kirinya dibobol maling saat ditinggal penghuninya pulang kampung.  Kali ini Saiful berupaya lebih waspada.

"Insting saya melihat beberapa coretan di beberapa rumah tetangga dan rumah saya sebagai sebuah penanda kelompok pencuri untuk melancarkan aksinya," cetusnya.

Saat dikonfirmasi, Kasatreskrim Polres Depok Kompol Teguh Nugroho mengaku belum menerima laporan terkait vandalisme yang mengarah ke aksi kriminalitas seperti pencurian.

"Belum ada laporan, tapi modus ini seperti tahun 1998 yang bertujuan membuat fear of crime sepertinya," urai Teguh.

Ia pun berjanji tetap mencermati setiap laporan warga terkait aksi serupa. Supaya ada kewaspadaan bersama.

Sebelumnya, modus serupa juga pernah ditemui di kawasan Kota Bogor dan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.


  Sumber:
  Indah Wulandari
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/15/11/21/ny61v4346-waspada-vandalisme-di-tembok-rumah-penanda-jalan-maling-marak-di-depok 

Mural Kampus Cegah Mahasiswa dari Vandalisme

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Memberikan ruang kreasi seni untuk para generasi muda diharapkan dapat mengurangi tindakan vandalisme yang makin hari makin sering terjadi.
Upaya itulah yang dilakukan oleh Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta.

Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-60, USD pun menyelenggarakan Festival dan Lomba Mural bertajuk Pendidikan Transformatif.

Rektor USD, Johanes Eka Prijatma mengatakan dalam konteks mendidik, semua pihak termasuk kampus berperan menciptakan lingkungan yang bersih dan imajinatif. Karena lingkunganlah yang berperan dalam membentuk karakter mahasiswa.

"Kegiatan seni semacam ini diharapkan dapat menumbuhkan lingkungan kampus yang imajinatif. Hal ini jugalah yang menjadi peran perguruan tinggi selain di bidang pendidikan," ujarnya saat membuka Festival dan Lomba Mural di Kampus USD Paingan, Yogyakarta, Minggu (15/11/2015).
Mural, lanjut dia, dipercaya mampu dalam menangkap realitas dengan cara yang baru. Oleh karena itu, USD ingin membagikannya kepada masyarakat melalui festival dan lomba mural tersebut.

Dalam festival dan lomba mural kali ini, tembok kampus dibagi menjadi 128 kotak sebagai tempat untuk melukis mural.

Sebanyak 50 tim yang terdiri dari 28 tim mahasiswa USD dan 22 tim siswa SMA dan SMK se-DIY mengikuti kegiatan tersebut.

Adapun dewan juri dalam lomba mural ini adalah Samuel Indratma, salah seorang seniman mural di Yogyakarta bersama In Nugroho SJ, dosen USD.

Sementara peserta juga didampingi seniman mural asal Yogyakarta lainnya, yakni Kumbo Adiguno, Yaksa Agus, dan Totok Buchory.

Samuel mengatakan festival murah bisa menjadi pembelajaran seni bagi kampus-kampus. Selain bidang akademik, bidang seni juga seharusnya bisa berkembang di lingkungan perguruan tinggi.
"Kegiatan ini diharapkan dapat bertumbuh untuk mengembangkan kebersamaan," tandasnya. (tribunjogja.com)


 sumber :

Aksi Vandalisme Marak, Bupati Kuningan Berang [Nusantara]

Aksi Vandalisme Marak, Bupati Kuningan Berang



Kuningan, Pelita
Di sepanjang Jalan Siliwangi, tepatnya dari bunderalan lampu merah Kel Cijoho Kec Kuningan sampai Stadion Mashud Wisnusaputra terdapat curat-coret hasil aksi vandalisme. Kondisi itu membuat situasi jalan yang sebelumnya begitu rapi menjadi terganggu dan tidak sedap di pandang mata.

Maraknya aksi vandalisme belakangan cukup tinggi, selain memberikan citra kurang bagus terhadap keindah kota, juga ada kesan semrawut dan tidak terurus. Hal itu membuat Bupati Kuningan, H Aang Hamid Suganda berang. Aksi vandalisme dianggap tidak menghargai jerih payahnya selama lima tahun membangun Kab Kuningan. Terlebih penataan lampu hias yang disengaja dirusak oleh oknum tidak bertanggungjawab.

Saya minta, pihak aparat keamanan untuk menindak pelaku vandalisme yang telah merusak keindahan di sepanjang jalan. Selain itu perusakan terhadap lampu hias di sepanjang wilayah jalan lingkar Cijoho-Pramuka-Cirendang. Meski pun jalur itu belum optimal pengoperasiannya namun penataannya sudah cukup baik. Tapi kenapa dirusak? kata Bupati, Rabu (8/4).

Sikap kurang bagus dari sejumlah warga itu, kata Bupati, dengan melakukan tindakan vandalisme dan perusakan lampu hias. Sama artinya tidak mengindahkan hasil pembangunan yang sudah dilaksanakan selama lima tahun lalu. Pembangunan itu dilaksanakan dengan jerih payah. Seharusnya mereka mampu menjaga dan merawat.

Justru yang terjadi sebaliknya. Jika terus dibiarkan maka akan terjadi perusakan lebih parah. Maka saya meminta jajaran aparat keamanan untuk menindak pelaku vandalisme dan perusakan fasilitas umum. Itu sudah tindakan kriminal yang suatu saat akan menjadi tindakan lebih besar. Guna mencegah ke arah sana, perlu diberikan pandangan sejak dini, ucapnya.

Saya tidak main-main. Betapa besar biaya yang kita keluarkan untuk menata Kuningan agar terlihat apik sebagai kota tujuan wisata tetapi kenyataannya malah ada oknum yang tidak bertanggung jawab dengan mengotorinya. Bagaimana orang luar akan datang ke Kuningan apabila kondisi kotanya semrawut dan tidak nyaman.

Kabupaten Kuningan, kata Bupati, ke depannya akan mengandalkan sektor pariwisata sebagai andalan untuk memeroleh pendapatan asli daerah (PAD). Sebab sektor itu sangat menjanjikan. Namun demikian, bukan berarti yang hanya memiliki keingingan itu bupatinya saja. Tapi harus mendapatkan dukungan dari seuruh komponen masyarakat supaya berhasil.

Selain meminta aparat keamanan, saya pun berharap warga dapat turut membantu dengan mencegah aksi vandalisme melakukan aksinya. Warga yang melihat langsung saja melaporkan ke aparat keamanan atau jika mampu melakukan upaya persuasif. Supaya mereka menyadari tindakannya salah karena dapat merugikan daerahnya sendiri, katanya. (ck-70)


 

Senin, 07 Desember 2015

SPIERIJZER

SPIERIJZER adalah band asal Depok Indonesia yang beraliran HC/PUNK CROSSOVER. SpierijzeR sendiri berdiri sejak tahun 2010 bertepatnya pada bulan Desember.

Owh iya ada yang lupa sebenarnya band ini pada awalnya bernama FINAL FANTASY, dan langsung berganti menjadi SPIERIJZER pada awal tahun 2011 tepatnya bulan Januari. Kenapa bisa diganti nama band tersebut dikarenakan masih terlalu "Labil" kata Handoko yang biasa di sebut Dogzsmall salah satu personil dari band SpierijzeR ini hahahaha ada-ada saja.



langsung saja saya copy paste dari blognya SPIERIJZER biar lebih lengkap:

Pertama-tama, reinkarnasi dari band yang dibentuk pada bulan Desember 2010 FINAL FANTASY adalah sejarah band. Ini adalah band metalcore yang didirikan oleh stevie sebagai pemain gitar, dan dogzsmall sebagai gitar vokal, ayup sebagai pemain bass dan drummer kukung. Pada akhirnya, itu hancur. Lalu kami memutuskan untuk membuat suatu band yang memiliki genre HARDCORE dan SPIERIJZER disebut. dan di sana kami bertemu dengan George banyak untuk membantu kita dalam SPIERIJZER. SPIERIJZER akhirnya terbentuk dengan George sebagai vokal dua, dogzsmall sebagai vokal satu , Stevie sebagai gitar, ayup sebagai bass, dan kukung sebagai drum.

Januari 2012: Terus berjalannya waktu, ayup pun mengundurkan diri dari SPIERIJZER karena alasan tertentu. sekarang SPIERIJZER terbentuk dengan kukung sebagai drum, Stevie sebagai gitar, George sebagai "vokal" /bass/rythm, dogzsmall sebagai "vokal" /bass

2014 - 2015: Band ini semakin malas dan hanya di isi 3 personil lama dengan kukung sebagai drum, Stevie sebagai gitar, dogzsmall sebagai "vokal" /bass.

 

Discography




Demo Tracks 2011 

  1.  Fresh From The Oven
  2.  My Name Is Dogsmall
  3.  Satu



EP Mini Album 2011, Hancurkan Sistem Pembodohan

  1.  Intro
  2.  Bastard Government
  3.  Fresh From The Oven
  4.  Satu
  5.  This Is a Spirit