DENGAN MENAMPILKAN 108 KARYA PERUPA, PAMERAN “MANIFESTO VIII: TRANSPOSISI” KEMBALI HADIR
Halo, selamat malam pemirsa,
Kembali bersama Saya Ade Kurniawan akan menemani anda selama lima menit ke depan dalam Depok News. Galeri Nasiona Indonesia di Jakarta kembali menghadirkan Pameran Seni Rupa Kontemporer Indonesia MAANIFESTO. Dengan menampilkan 1008 karya dari perupa Indonesia yaitu perorangan maupun kelompok. Setiap perupa menyuguhkan karya yang dipilih berdasarkan hasil seleksi kurasi dari 613 calon peserta yang mengajukan melalui undangan terbuka (open call). Karya-karya tersebut berupa lukisan, grafis, drawing, mural, patung, instalasi, found object, kolase, kriya tekstil, fotografi, seni digital, video art, animasi, video mapping, dan virtual reality.
Pameran Seni Rupa Kontemporer Indonesia MANIFESTO VIII “TRANSPOSISI” dikuratori oleh Rizki A. Zaelani, Suwarno Wisetrotomo, Citra Smara Dewi, dan Teguh Margono. Kurator Rizki mengatakan, karya-karya yang dipamerkan menunjukkan jenis dan karakter medium ekspresi yang beraneka. Bentuk dan ukuran karya-karyanya bervariasi: ukuran maksimal dengan sifatnya yang ekspansif atau instalatif, atau ukuran minimal yang justru memilih karakter ekspresi yang lebih intim.
Terdapat dua hal penting dari Pameran MANIVESTO VIII ini. Pertama, perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia kini telah mengembangkan model apresiasi publik terhadap ekspresi karya-karya seni rupa yang dipresentasikan di ruang-ruang publik (termasuk gedung STOVIA yang kini dijadikan museum kesejarahan). Kedua, gagasan penciptaan karya-karya seni rupa kontemporer Indonesia pun, pada umumnya, tetap menjadi khas dan signifikan karena selalu menghubungkan dinamika kemajuan masyarakat kontemporer kini dengan landasan pembelaan sikap-sikap kebangsaan.
“TRANSPOSISI” sebagai tema kerja kurasi maupun judul pameran kali ini lebih dari sekadar undangan bagi para seniman untuk menentukan posisi dan peran kerja penciptaan seni mereka yang baru (atau sekadar “reposisi”). Tema “TRANSPOSISI” menganggap penting upaya pengetahuan dan kesadaran para seniman untuk terus memeriksa kamus gagasan serta tindakan penciptaan seni yang sebelumnya telah dikerjakan masing-masing seniman untuk menciptakan lokasi peran seni yang terbarukan.
Menurut Kurator Suwarno, “MANIFESTO VIII: TRANSPOSISI” memiliki tiga arti penting. Pertama, penting bagi jagad wacana dan praktik seni rupa di Indonesia karena menghadirkan seniman dan karya seni melalui proses kurasi yang tajam di bawah bingkai keindonesiaan, kebangsaan, serta keseharian. Kedua, penting bagi seniman berada dalam tantangan untuk mengelaborasi ide-ide kurasi yang terus bergerak seiring dengan isu-isu aktual dan kontekstual dalam karya seni visual. Ketiga, publik seni maupun masyarakat luas dapat menyaksikan sekaligus mengonfirmasi perkembangan wacana dan praktik seni mutakhir.
Sementara Kurator Citra mengatakan, berbagai dinamika, perubahan, peralihan, hingga ‘turbulensi’ dalam proses berkesenian para perupa menjadi pertaruhan pada pameran MANIFESTO VIII kali ini. “Sinergitas antara seni, sains, dan teknologi yang saling berkelindan dengan mengusung tema-tema masa lalu, masa kini, dan masa mendatang membawa imajinasi, persepsi, dan interpretasi publik tentang konsep kebangsaan melalui karya seni rupa kontemporer,” tutur Citra.
Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto, berharap melalui Pameran Seni Rupa Kontemporer Indonesia “MANIFESTO VIII: TRANSPOSISI”, diharapkan para perupa memiliki kepekaan yang tajam untuk membuat seni rupa memiliki posisi dan peran krusial yang mampu berkontribusi positif dalam kehidupan masyarakat dan mendorong kemajuan zaman.
Menurut Kurator Suwarno, “MANIFESTO VIII: TRANSPOSISI” memiliki tiga arti penting. Pertama, penting bagi jagad wacana dan praktik seni rupa di Indonesia karena menghadirkan seniman dan karya seni melalui proses kurasi yang tajam di bawah bingkai keindonesiaan, kebangsaan, serta keseharian. Kedua, penting bagi seniman berada dalam tantangan untuk mengelaborasi ide-ide kurasi yang terus bergerak seiring dengan isu-isu aktual dan kontekstual dalam karya seni visual. Ketiga, publik seni maupun masyarakat luas dapat menyaksikan sekaligus mengonfirmasi perkembangan wacana dan praktik seni mutakhir.
Sementara Kurator Citra mengatakan, berbagai dinamika, perubahan, peralihan, hingga ‘turbulensi’ dalam proses berkesenian para perupa menjadi pertaruhan pada pameran MANIFESTO VIII kali ini. “Sinergitas antara seni, sains, dan teknologi yang saling berkelindan dengan mengusung tema-tema masa lalu, masa kini, dan masa mendatang membawa imajinasi, persepsi, dan interpretasi publik tentang konsep kebangsaan melalui karya seni rupa kontemporer,” tutur Citra.
Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto, berharap melalui Pameran Seni Rupa Kontemporer Indonesia “MANIFESTO VIII: TRANSPOSISI”, diharapkan para perupa memiliki kepekaan yang tajam untuk membuat seni rupa memiliki posisi dan peran krusial yang mampu berkontribusi positif dalam kehidupan masyarakat dan mendorong kemajuan zaman.
Pameran Seni Rupa Kontemporer Indonesia MANIFESTO VIII: TRANSPOSISI berlangsung pada 27 Juli hingga 26 Agustus 2022. Pameran ini digelar di dua tempat, yakni di Gedung A Galeri Nasional Indonesia dan di Museum Kebangkitan Nasional. Di Galeri Nasional, pameran dibuka setiap hari (kecuali hari libur nasional), pukul 10.00-19.00 WIB. Pengunjung dapat melakukan registrasi di laman https://gni.kemdikbud.go.id/kunjungi-kami. Di Museum Kebangkitan Nasional, pameran dibuka setiap hari (kecuali hari libur nasional), pukul 08.00-16.00 WIB. Registrasi pengunjung dapat dilakukan melalui laman https://muskitnas.net/. Selain digelar secara luring, publik juga akan bisa mengakses 360 pameran ini di laman https://gni.kemdikbud.go.id/ .
Penyelenggaraan MANIFESTO tahun ini berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya, khususnya terkait dengan lokasi pameran yang kali ini bertempat di Galeri Nasional Indonesia (GNI) dan gedung bersejarah STOVIA (kini disebut Museum Kebangkitan Nasional), Jakarta. Relasi kedua lokasi itu menyegarkan kembali gagasan awal penyelenggaraan Pameran MANIFESTO kali pertama (2008) sebagai peringatan momen satu abad gerakan Kebangkitan Nasional Indonesia (sejak 1908). Tujuan dari MANIFESTO sendiri adalah untuk memetakan perkembangan seni rupa di Indonesia, yang kemudian diwujudkan sebagai manifesto atau pernyataan sikap dalam ekspresi seni rupa.
Penyelenggaraan MANIFESTO tahun ini berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya, khususnya terkait dengan lokasi pameran yang kali ini bertempat di Galeri Nasional Indonesia (GNI) dan gedung bersejarah STOVIA (kini disebut Museum Kebangkitan Nasional), Jakarta. Relasi kedua lokasi itu menyegarkan kembali gagasan awal penyelenggaraan Pameran MANIFESTO kali pertama (2008) sebagai peringatan momen satu abad gerakan Kebangkitan Nasional Indonesia (sejak 1908). Tujuan dari MANIFESTO sendiri adalah untuk memetakan perkembangan seni rupa di Indonesia, yang kemudian diwujudkan sebagai manifesto atau pernyataan sikap dalam ekspresi seni rupa.
Itulah berita saya untuk saat ini. Ikuti pembaruan selanjutnya di Depok News satu jam kedepan. Saya Ade Kurniawan, sampai jumpa.
TUGAS MENULIS BERITA 4
Cyber Journalism
Nama : Ade Kurniawan
NIM : 210501010118
Tidak ada komentar:
Posting Komentar